JURUS TEKNIKAL

JURUS TEKNIKAL

Mengenal Indikator Stochastic, Si Indikator Momentum Ciptaan Trader Sukses George Lane

Story by : Hadi J
Category at: Analisa Teknikal
Published : January 06, 2023
Dilihat: 525 kali

Hadi adalah penasihat perdagangan di pasar berjangka sebagai pedagang valas dan komoditas. Sebagai seorang trader scalper, Dia menggunakan strategi Trendline dan Indikator Aligator untuk trading. Dia akan membantu Anda mempelajari cara menghasilkan uang dari 'zero' menjadi 'hero'.


zoom

Kamu pernah mendangar istilah Stochastic? Stochastic merupakan salah satu metode perhitungan yang cukup populer. Secara sederhana, metode stochastic adalah salah satu petunjuk atau indikator dalam trading yang memiliki fungsi untuk menunjukkan sinyal jual dan beli melalui dua garis yang berpotongan. 

Stochastic Oscillator (SO) termasuk ke dalam kelompok indikator jenis momentum. Berdasarkan teknik penggunaan, Stochastic bertujuan untuk menunjukkan harga perdagangan penutupan terakhir. Caranya dengan kalkulasi selisih harga terendah dan tertinggi dalam kurun waktu tertentu. 

Sifat Dasar Indikator Stochastic

Pada tahun 1950-an, Indikator Stochastic ditemukan oleh seorang trader bernama George Lane. menemukan sebuah indikator momentum yang dinamakan Indikator Stochastic. 

Indikator Stochastic cukup populer digunakan dalam trading pada hampir semua jenis pasar termasuk pasar forex.  Indikator ini memprediksi harga selama periode waktu tertentu dengan harga penutupan selama periode tersebut. Stochastic oscillator adalah indikator yang bisa memberi petunjuk kapan waktu terbaik untuk trader harus melakukan buy atau sell. 

Indikator stochastic sangat sensitif terhadap pergerakan harga di pasar dan lebih sering berayun naik dan turun dibandingkan indikator momentum lainnya.  

Prinsip dasar stochastic adalah bahwa ketika sebuah harga berada dalam tren naik, maka harga akan menutup di dekat level harga tertinggi sebelumnya dan jika sebuah mata uang berada dalam tren turun, maka harga akan menutup di dekat level harga terendahnya. 

Namun, indikator ini tidak akurat 100%. Maski begitu, Kamu masih bisa meningkatkan akurasi indikator tersebut dengan cara mengkombinasikannya dengan indikator yang lain. Perlu diketahui, George Lane hanya menggunakan 3 alat teknikal di sepanjang karirnya sebagai trader, yaitu Indikator Stochastic, garis trend, level Fibbonaci Retracement. 

Indikator stochastic oscillator adalah indikator teknikal yang populer untuk:

(1) menunjukkan harga penutupan/close terakhir,

(2) menghasilkan sinyal jenuh beli/overbought atau sinyal jenuh jual/oversold,

(3) membantu memprediksi tren jangka panjang untuk keuntungan yang optimal.

Cara Membaca Indikator Stochastic sebagai Overbought-Oversold

Indikator stochastic sangat mudah dipahami untuk membaca overbought dan oversold. Pada dasarnya, ada dua level ekstrem indikator stochastic, yakni level 80 dan 20. Angka ini menunjukan batas overbought dan oversold. 

Singkatnya, kondisi overbought terlihat saat grafik menyentuh atau berada di atas level 80. Jika oversold menunjukkan sebaliknya. Kondisi oversold terjadi saat grafik berada di level 20 atau lebih di bawahnya. Namun, kamu jangan langsung entri ketika indikator menunjukan level terandahnya. Ada kasus tertentu, setelah menyentuh level 20, grafik justru naik.

Cara Membaca Indikator Stochastic sebagai Petunjuk Entri Trading 

Dalam proses menemukan sinyal entri, kamu sebaiknya mencermati garis %K dan %D yang bersilangan. Kamu bisa menemukan sinyal beli yang terdeteksi saat garis %K memotong garis %D dengan posisi garis %K dari atas ke bawah.

Gambar di atas menunjukkan indikator stochastic sebagai petunjuk Entry Trading menggunakan platform MetaTrader 4. Secara default, platform tersebut menunjukkan %K berwarna hijau dan %D tampil sebagai grafik putus-putus berwarna merah. 

Cara Membaca Indikator Stochastic dengan Divergence

Istilah divergence dalam dunia trading diartikan sebagai memusatkan fokus pada perbedaan antara pergerakan laju harga dan indikator. Pemusatan itu berguna untuk memprediksi waktu tren harga berlanjut atau justru berbalik arah. 

Ciri khas divergence bisa kamu lihat dari puncak (high) dan dasar (low) yang terdiri dari sekumpulan garis sinyal. Ketika posisi high dan low semakin turun, bisa dikatakan momentum sedang mengalami pelemahan. Saat posisi high dan low semakin tinggi, maka momentum pergerakan sedang menguat. 


Artikel Terkait