ARTIKEL BARU

ARTIKEL BARU

INGIN TAU CARA TRADING MENGGUNAKAN STRATEGI CROSSING MA? BACA ARTIKEL INI!!

Story by : Hadi J
Category at: Artikel Baru
Published : May 15, 2021
Dilihat: 473 kali

Hadi adalah penasihat perdagangan di pasar berjangka sebagai pedagang valas dan komoditas. Sebagai seorang trader scalper, Dia menggunakan strategi Trendline dan Indikator Aligator untuk trading. Dia akan membantu Anda mempelajari cara menghasilkan uang dari 'zero' menjadi 'hero'.


zoom

Strategi crossing MA bisa dimanfaatkan sebagai acuan entry posisi. Selain itu,  bisa juga mencoba trading saat terjadi crossing indikator MACD dan Stochastic. selain itu masih banyak startegi trading yang bisa dijadikan pilihan saat berburu cuan. Mulai dari sekedar memanfaatkan pola-pola candlestick, hingga naik setingkat lebih menantang menggunakan beragam model analisa. Beberapa trader mungkin lebih mengidolakan strategi trading Price Action, atau Naked Trading yang "bersih" dari garis-garis indikator. Apabila Anda termasuk penggemar indikator teknikal, maka strategi crossing MA (Moving Average) bisa menjadi trik andalan tiap kali hendak entry posisi. 


Memanfaat Crossover Indikator
 

Crossing merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan perpotongan antar dua indikator MA, sekaligus memberi tahu titik entry yang tepat. Hal ini karena crossing cenderung menunjukkan indikasi terjadinya reversal, yang mana peluang tersebut bisa dimanfaatkan untuk meraup profit.meskipun demikian, bukan berarti trading dengan strategi crossing MA dianggap cukup sebagai panduan entry,Ada juga crossing indikator MACD atau Stochastic yang bisa dijadikan alternatif lain saat sedang bertrading. berikut ini cara-cara penggunaanya :
 

1. Strategi Crossing MA (Moving Average)

indikator Moving Averag ini dikenal sebagai tool paling sederhana dalam chart, tetapi multifungsi.indikator MA juga tersedia hampir di semua platform trading, bahkan menjadi indikator default yang terpasang dalam chart. indikator Moving Average terdiri atas 3 jenis yaitu :

  • SMA (Simple Moving Average)
  • EMA (Exponential Moving Average)
  • WMA (Weighted Moving Average).

meskipun ada beberapa jenasi tetapi fungsi utama indikator MA adalah sebagai pendeteksi arah tren sekaligus penentu titik entry dari crossing antara indikator MA, yakni MA berperiode pendek dan MA berperiode panjang. Periode MA yang digunakan ini bervariasi dan tergantung kebutuhan masing-masing trader. Periode yang lazim digunakan antara lain SMA-20 dan SMA-50, SMA-20 dan SMA-100, atau SMA-50 dan SMA-200. Terjadinya crossing antara dua indikator MA juga disebut sebagai death cross atau golden cross .Death cross bisa dimanfaatkan untuk entry Sell. Sebaliknya, golden cross umumnya menandakan entry Buy. Meski titik entry sudah diketahui dari strategi crossing MA di atas, tetapi ada baiknya Anda menggunakan konfirmator tambahan, seperti indikator RSI atau dengan menggunakan pola candle Heiken Ashi.Ada beberapa contoh aplikasi strategi crossing MA, yaitu :

  • Gabungan Indikator antara MA Dan RSI

    RSI (Relative Strength Index) adalah salah satu indikator teknikal yang populer digunakan untuk mendeteksi kondisi overbought dan oversold . Harga dinyatakan oversold apabila berada di bawah level 30, sementara level overbought dinyatakan bila harga berada di atas level 70. Mengenai kaitannya dengan penggunaan strategi crossing MA, indikator RSI dapat digunakan sebagai konfirmator, agar titik entry semakin terkonfirmasi dengan valid. 
  • Indikator MA & Heiken Ashi

    Heiken Ashi adalah salah satu jenis chart yang tampilannya mirip grafik candlestick.jenis chart satu ini tampak lebih jelas dalam menggambarkan kekuatan tren yang terbentuk, serta mampu menyaring noise yang dapat menganggu trader saat trading tren. Penggunannya pun jauh lebih mudah bila dibandingkan candlestick biasa. Cukup perhatikan panjang shadow pada Heiken Ashi, maka Anda dapat menyimpulkan kekuatan tren saat itu.Trend trader umumnya juga menggunakan karakter bearish dan bullish Heiken Ashi sebagai cara entry berdasarkan pullback. Dalam kaitannya dengan strategi crossing MA, pola Heiken Ashi biasanya memancarkan sinyal trend lebih dulu dibandingkan MA. 
     

Memanfaatkan Crossover Indikator MA dan Heiken Ashi
 

 

2. Crossing Indikator MACD


Tak hanya Moving Average, indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence)  juga bisa digunakan oleh trader. Indikator yang dibuat oleh Gerald Appeal pada tahun 1979 ini dinilai sangat sederhana dan fleksibel. Indikasinya pun tak jauh berbeda dengan Moving Average, karena MACD juga dapat menunjukkan arah pergerakan tren. Namun, MACD dianggap jauh lebih "matang" karena dapat sekaligus mengukur kekuatan (momentum) harga, serta menunjukkan titik entry berdasarkan crossing .Secara komponen, indikator MACD ini tersusun atas dua garis EMA, yaitu EMA berperiode 12 (EMA-12) dan EMA berperiode 26 (EMA-26). Kedua garis indikator ini bila berpotongan dapat dimanfaatkan untuk entry posisi.D
Meskipun titik entry sudah bisa diketahui bahkan hanya dengan menggunakan indikator MACD saja, tetapi akan lebih baik jika Anda menambahkan indikator lain seperti Parabolic SAR (PSAR). Selain indikator tambahan, entry posisi juga bisa dilihat berdasarkan sinyal divergen dari MACD.

  • MACD Dan Parabolic SAR
    Parabolic SAR (PSAR) adalah indikator teknikal yang dibuat oleh Welles Wilder untuk digunakan saat pasar sedang trending. Kata SAR sendiri merupakan singkatan dari Stop And Reverse, yaitu penanda tempat berhenti dan berbaliknya arah market. Namun pada dasarnya, indikator ini berfungsi untuk menentukan arah tren, patokan entry, patokan exit. dan Trailing Stop.

memanfaatkan crossing indikator MACD sekaligus PSAR, maka titik crossing biasanya akan menandai perubahan posisi PSAR. Apabila candle berada di bawah titik-titik PSAR, maka kondisi tersebut menunjukkan Downtrend. Sebaliknya bila harga sedang Uptrend, candle akan berada di atas titik-titik PSAR.
Contoh gabungan antara indikator PSAR dan MACD dapat Anda lihat pada chart berikut ini:

  • MACD Dan Sinyal Divergen
    Ada dua jenis Divergen yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk entry, yaitu Bullish Divergence untuk Entry posisi Buy, dan Bearish Divergence untuk Entry posisi Sell. Contoh chart XAU/USD di bawah ini menunjukkan kondisi Bullish Divergence, sehingga bisa dimanfaatkan untuk entry Buy setelah terbentuknya pola Bullish Engulfing.
  • Crossing Indikator Stochastic
    Stochastic termasuk indikator pertama yang digunakan para analis untuk memprediksi arah pergerakan harga. Indikator ini merupakan salah satu jenis indikator oscillator yang dibuat oleh George Lane dan mulai diperkenalkan pada akhir tahun 1950-an. Tingkat akurasi indikator ini pun tak perlu diragukan lagi, mengingat "usia"nya yang telah mencapai setengah abad. Oleh sebab itu, Stochastic Oscillator hingga kini masih digunakan oleh tak hanya trader forex sukses, tetapi juga saham, futures maupun komoditi.

indikator Stochastic terdiri dari dua komponen yang ditampilkan secara bersamaan, yaitu Garis %K yang mengukur tingkat perubahan harga saat ini, dan garis %D yang merupakan nilai rata-rata (Moving Average) dari garis %K, atau %K yang diperhalus. Garis ini disebut juga dengan garis sinyal.
Sama halnya dengan indikator lain, Anda juga bisa memanfaatkan crossing indikator Stochastic untuk entry posisi. Kuncinya yaitu:

  • Jika %K memotong %D dari arah bawah ke atas, maka mengisyaratkan sinyal untuk buy.
  • Bila garis %K memotong %D dari arah atas ke bawah, berarti mengisyaratkan sinyal untuk sell.
  • Chart USD/JPY berikut ini menunjukkan contoh entry posisi dengan memanfaatkan crossing indikator Stochastic

RECOMMENDATION FROM EXPERT :

  • Pastikan anda Mengetahuinya dengan BACA dan PAHAMI dalam artikel ini.
  • Share artikel ini ke temanmu dan DAPATKAN FREE KONSULTASI langsung dengan Saya untuk mengenal trading lebih detail.
  • CALL atau whatsapp dan cari HADI J silahkan hubungi di SINI

Artikel Terkait