ARTIKEL BARU

ARTIKEL BARU

PENGERTIAN DARI SUKU BUNGA YANG MELEMAH

Story by : Geraldo Kofit
Category at: Artikel Baru
Published : July 29, 2022
Dilihat: 139 kali

Geraldo Kofit adalah Seorang Profesional Trader yang sudah lama berkecimpung di dunia trading kurang lebih 2 tahun. Dengan 2 teknik sederhana Trend Line dan Moving Average, Gerald siap untuk membantu anda sebagai Trading Advisor handal..


zoom

Suku bunga adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan nilai mata uang suatu negara. Inilah penyebab mengapa bila ada sebuah berita mengenai bias kebijakan moneter, perhatian trader akan segera tertuju pada berita tersebut. Mengapa? Karena, dalam rapat kebijakan moneter bank sentral suatu negaralah, tingkat suku bunga ditentukan. Demikian pula jika muncul rilis data ekonomi yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga. Data ekonomi merupakan indikator kesehatan suatu negara. Suku bunga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ekonomi di negara tersebut. Jika kondisi ekonomi memang kurang tangguh, maka bank sentral dapat menetapkan suku bunga negatif.

Pengertian Suku Bunga Negatif

Suku bunga negatif menjadi salah satu fenomena heboh di beberapa negara beberapa waktu lalu. Sebut saja Zona Euro dan Jepang. Sejak bulan Juni tahun 2014, petinggi European Central Bank (ECB) menyebabkan kericuhan di pasar dengan mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan untuk menerapkan suku bunga deposit negatif. Sedangkan Bank Sentral Jepang (BoJ) mulai mengadopsi kebijakan serupa pada bulan Januari 2016. Pengertian suku bunga negatif adalah suku bunga dalam persentase di bawah nol per tahunnya, yang diterapkan oleh bank sentral dengan tujuan supaya bank-bank komersial menyalurkan dananya ke masyarakat, bukannya menyimpan uangnya di bank sentral saja.

Suku bunga negatif akan mengurangi pendapatan bank-bank komersial dari memarkirkan uang di bank sentral, karena bukannya mendapat mendapat bunga, simpanan mereka di bank sentral malah akan dipotong. Dengan demikian, suku bunga negatif diharapkan dapat memacu bank-bank agar menyalurkan uang mereka ke masyarakat. Efektivitas kebijakan suku bunga negatif ini selanjutnya dapat dipantau, salah satunya dari kondisi program kredit (pinjaman/pembiayaan). Bank-bank komersial diharapkan dapat terdorong untuk meminjamkan uang pada individual dan pengusaha. Jika lebih banyak kredit disalurkan, harapannya perusahaan-perusahaan bakal berekspansi dan konsumsi produk meningkat, sehingga perekonomian yang lesu jadi bisa terpacu. 

Suku Bunga Negatif di Berbagai Negara

Meski mengundang pro kontra, beberapa bank sentral negara maju tetap lanjut menerapkan suku bunga negatif. Bank Sentral Jepang menjadi bank sentral negara mata uang mayor kedua--setelah ECB--yang bereksperimen menggunakan suku bunga negatif. Alasannya, kebijakan itu merupakan cara yang efektif untuk 'mencambuk' bank-bank komersial yang kurang agresif dalam meminjamkan uang mereka.

Jepang dilanda deflasi selama dua puluh tahun terakhir. Hal itu tak baik bagi pertumbuhan ekonominya. Itu sebabnya, BoJ ingin menjajal efektifitas suku bunga negatif guna memacu pertumbuhan. Tak hanya Jepang dan Zona Euro, Bank Sentral Swiss (SNB) pun melakukan hal yang sama pada tahun 2014 lalu. Langkah tersebut diambil untuk merespon chaos perekonomian Rusia yang telah mengakibatkan surplus likuiditas di bank-bank Swiss.

Ada juga Denmark. Negara yang menurut sejumlah survei menjadi negara dengan rakyat yang paling bahagia tersebut memberikan pengertian suku bunga negatif dengan cara yang sedikit berbeda. Di sana, suku bunga negatif justru berarti debitur (orang yang mengambil kredit) mendapatkan komisi. Perbankan Denmark memutar otak untuk tetap membuat penabung tetap nyaman, sehingga simpanan dari para penabung individual belum dipotong bunga. Yang dipotong bunga hanya simpanan perusahaan-perusahaan kelas menengah dan besar.

Dampak Suku Bunga Negatif

Apa dampak buruk suku bunga negatif? Sama halnya dengan suku bunga rendah--akan berdampak buruk pada sektor properti. Bunga kredit yang rendah akan membuat permintaan rumah melejit. Jika persediaan rumah tetap, atau permintaan rumah lebih tinggi dari penawarannya, maka harga rumah akan melambung hingga bisa berisiko melampaui daya beli masyarakat yang sesungguhnya. Apabila itu terjadi, maka pihak berwenang perlu melakukan upaya penanggulangan.

Contohnya di Jepang. Negara ini memulai program quantitative easing (QE) tahun 2001 (hingga sekarang), 6 tahun kemudian harga rumah mulai merambat naik. Hanya saja, laju kenaikan harga properti di negeri Sakura tidak lepas kendali, karena rendahnya permintaan akibat penurunan populasi dan sulitnya warga negara asing untuk memiliki properti di sana. Denmark juga bisa disebut sebagai negara yang berhasil mengendalikan pasar properti meski memakai suku bunga negatif. Caranya, Denmark memberi mandat pada lembaga berbeda, yakni Financial Supervisory Authority, untuk menyusun peraturan yang sangat ketat bagi pemilikan properti. Harga properti di Kopenhagen pun bisa ditekan hingga jauh lebih murah dibanding harga rumah di New York, London, maupun Stokholm.

Sedangkan di pasar forex, penetapan suku bunga negatif oleh bank sentral suatu negara biasanya berdampak pada penurunan permintaan terhadap mata uang negara tersebut, sehingga nilai tukar mata uangnya melemah. Di sisi lain, kenaikan suku bunga berdampak pada menguatnya nilai mata uang suatu negara. Akan tetapi, perlu diingat bahwa pengaruh tingkat suku bunga pada nilai mata uang tidak akan selalu berlaku demikian. Dalam kondisi tertentu, bisa saja terjadi anomali, terutama apabila hasil pengumuman suku bunga bank sentral ternyata di luar ekspektasi pasar.

RECOMMENDATION FROM EXPERT :

  • Pastikan anda Mengetahuinya dengan BACA dan PAHAMI dalam artikel ini.
  • Share artikel ini ke temanmu dan DAPATKAN FREE KONSULTASI langsung dengan Saya untuk mengenal trading lebih detail
  • CALL atau whatsapp dan cari GERALD silahkan hubungi di SINI

Artikel Terkait