ARTIKEL BARU

ARTIKEL BARU

Resesi Ekonomi Hantui Perekonomian Dunia

Story by : Citra Nuraini
Category at: Artikel Baru
Published : May 30, 2022
Dilihat: 41 kali

Seorang Blogger yang menyukai bidang jurnalistik, content writer, SEO, dan copywriting. Menyukai isu seputar dunia finansial, film, kebudayaan, dan human interest. Saat ini bergabung di belajartrading.co.id sebagai content writer.


zoom

Pandemi Covid-19 telah memukul hampir semua negara sehingga terjadi resesi. Situasi ini kerap menjadi hantu, yaitu suatu penurunan keadaan ekonomi selama lebih dari dua kuartal karena selalu menjadi kekhawatiran semua negara. 

Kini, perkembangan ekonomi berangsur pulih seiring dengan semakin terkendalinya penyebaran Covid-19. Tetapi, potensi resesi terus diwaspadai faktor global. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Selasa (31/5/2022), Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebutkan ancaman stagflasi yaitu resesi dengan kombinasi inflasi yang tinggi menjadi sangat nyata.

Apa itu Resesi Ekonomi?

Resesi ekonomi atau biasa hanya disebut resesi adalah periode saat terjadi penurunan roda perekonomian yang ditandainya dengan melemahnya produk domestik brotu (PDB) selama dua kuartal berturut-turut (apa itu resesi). 

Resesi ekonomi adalah juga ditandai dengan kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang. Resesi Indonesia pernah terjadi di tahun 1998. Dengan kata lain, resesi ekonomi adalah pelambatan atau kontraksi besar dalam kegiatan ekonomi. 

Sementara itu mengutip The Balance, resesi artinya penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa bulan, umumnya dalam tiga bulan lebih Sejumlah indikator yang bisa digunakan suatu negara dalam keadaan arti resesi antara lain terjadi penurunan pada PDB, merosotnya pendapatan riil, jumlah lapangan kerja, penjualan ritel, dan terpuruknya industri manufaktur.

Resesi Tidak Akan Terjadi di Asia

Dilansir dari CNBC, meski begitu, kepala ekonomi global di Economist Intelligence Unit, Simon Baptist, melihat bahwa resesi ekonomi belum akan terjadi dalam waktu dekat. Ia menyebut yang akan terjadi justru kenaikan biaya dan pertumbuhan yang lebih lambat.

"Ketika perang di Ukraina dan gangguan pandemi terus mendatangkan malapetaka pada rantai pasokan, stagflasi akan bertahan setidaknya selama 12 bulan ke depan," ujar Simon Baptist.

Dia mengatakan untuk hampir semua ekonomi Asia, resesi cukup kecil kemungkinannya dilihat dari periode berturut-turut dari PDB negatif.


Artikel Terkait